Kebetulan yang sebenarnya adalah hal yang tidak direncanakan, dengan kata lain kuasa Tuhan yang bekerja. Tapi, aku rasa tidak ada salahnya manusia membuat sebuah kebetulan itu dengan sengaja, karena ini juga bentuk usaha.
Berkat Bram, aku bisa berkenalan dengan Alkana Malika, perempuan yang dulunya ceria tapi semakin ia bertambah usia wajahnya menjadi sangat serius. Kana yang aku temui siang itu adalah perempuan yang minim senyum, kalimat yang keluar cukup irit, terkesan dingin, tapi aku tetap tertarik dengan perempuan itu.
Ini adalah keberanianku yang kembali aku pertaruhkan lagi setelah kegagalan-kegagalan yang sempat terjadi dan membuatku malas berurusan dengan perasaan, pasangan, menikah. Sebenarnya ini bukan pertemuan pertamaku dengan Kana. Sebelumnya diacara pernikahan Bram, aku sempat bertemu dengannya. Dia dengan versi setengahnya, aku bisa melihat dia yang tersenyum ceria bahkan sesekali melontarkan candaan dan membuat teman-temannya tertawa. Juga, aku melihat Kana yang pendiam dengan wajah yang sangat serius. Entah kenapa, perempuan itu menarik perhatianku. Bahkan setelah beberapa tahun aku tidak lagi mendengar tentangnya apalagi bertemu, secara tidak sengaja.
“Gue bantu lo kenalan sama Kana, tapi janji satu hal. Kalau lo beneran serius sama dia.” Kalimat Bram yang sampai detik ini aku ingat. Waktu itu aku kembali iseng menanyakan kabar Kana kepadanya.
Dia menceritakan bahwa baru beberapa bulan lalu rencananya menikah gagal karena pihak laki-laki yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Bram juga mengatakan kejadian itu membuat Kana menjadi semakin tertutup perihal percintaan. Bahkan pernah ia mengatakan memilih untuk tidak menikah.
Entah keberanian darimana, saat itu aku sepakat dengan Bram. Bahkan kami merekam perjanjian itu. Barulah setelah genap 1 tahun kisah Kana itu berlalu, aku memulai rencanaku untuk mendekati Kana. Dimulai dengan kebetulan yang disengaja, di kantornya.
Aku melambaikan tangan ke arah Kana yang saat itu baru keluar dari lift. Dia sedikit terkejut tapi langsung merespon mendekatiku.
“Kebetulan, nih.” Ucapku dengan tersenyum.
“Ada perlu apa ke sini?” tanya Kana.
“Janjian sama Bram, motornya masuk bengkel dan saya nemenin dia ambil.” Jawabku. Kami masih berbicara dengan formal.
Tak lama dari itu, Bram keluar.
“Whehehe, Dik. Sorry, gue lupa nggak ngasih tahu lo. Ternyata kang bengkelnya udah otw ke sini nganterin motor gue.” Ucapnya, seperti dalam skenario yang kami buat.
Kana melihat kami secara bergantian. Wajahnya tentu saja tidak peduli dan tertarik dengan hal itu.
“Kacau, lo. Ini aja gue udah izin pulang cepet.” Ucapku.
“Sorry-sorry, lain kali gue traktir. Tapi nggak sekarang, soalnya gue janji jemput istri gue.”
“Maaf, saya duluan ya.” Ucap Kana.
“Eh...nggak lupakan sama kesepakatan kita?” cegahku.
Giliran Bram yang melihat ke arah aku dan Kana bergantian.
“Wihhh, kesepakatan apa nih?” tanya Bram kemudian.
Kana menghela napas, ada raut tidak senang di wajahnya. Ia melihat jam tangannya kemudian diam.
“Sebentar aja, ya.” Ucapnya kemudian.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Pertanyaan gue nggak dijawab nih?” tanya Bram lagi.
“Nggak penting,” ucapku sambil menepuk bahunya dan berlalu mengikuti Kana yang sudah jalan lebih dulu.
“Udah makan belum?” tanyaku.
“Belum,” jawabnya.
“Kita makan aja, gimana?”
“Ya udah. Deket sini aja, ya.”
“Iya,”
Setelah kami memesan makanan, aku mulai membuka percakapan.
“Kerjaan lagi nggak bagus ya?” tanyaku.
“Yaa...biasa sih.” Jawabnya.
“Terus kenapa mukanya dilipet gitu? Nggak semua hal yang dilipet jadinya rapi, loh. Contohnya muka,”
“Saya boleh jawab jujur?” tanya Kana.
“Harus, sih.” Ucapku.
“Saya masih ngerasa terganggu dan nggak suka sama hal semacam ini.” Ucapnya.
Aku terdiam sebentar. Yahh, benar kata Bram, Kana memang menjadi sangat kaku dan dingin ketika berurusan dengan hati.
“Maaf, kalau gitu. Tapi, kalau saya pengen kenal kamu, jalan satu-satunya ketemu kamu langsung, kan?!”
“Kayaknya saya belum bisa, kenal orang lagi. Saya belum siap harus kenal laki-laki, ngertiin situasi, mikirin semua yang berkaitan dengan hal itu, ngerasain lagi perasaan-perasaannya, seneng, deg-degan, penasaran, takut kehilangan, nangis lagi.”
“Saya paham. Saya juga ngumpulin keberanian dulu pas mau kenalan sama kamu. Karena saya tahu, orang yang mau saya kenali itu pernah punya luka yang sama menyakitkannya seperti yang saya alami.” Ucapku. Kali ini tidak ada diskenario.
Kana menatap ke arahku dengan wajah marah. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
“Saya emang nggak bisa janjiin apa-apa sekarang. Saya juga nggak bisa jamin kamu akan selalu bahagia kalau kamu sama saya. Tapi kalau kamu mau percaya sedikit aja sama saya, saya nggak akan sia-siain kesempatan itu.”
Kana diam, dia mengalihkan pandangannya. Aku mengambil jeda sebentar dan mencoba berhati-hati lagi.
“Saya sedikit banyak tahu cerita kamu dari Bram. Termasuk soal hal yang bikin kamu nggak mau berurusan sama perasaan, pasangan, menikah. Saya juga ngalamin hal yang sama seperti kamu. Saya gagal dengan perempuan yang menyerah lebih dulu dengan hubungan itu. Mungkin belum sedalam cerita kamu, tapi untuk saya dengan keseriusan saya waktu itu, cukup bikin sakit hati juga dan lama pulihnya.
“Jujur saya udah capek ngelakuin semuanya, ketemu kenal, saya orangnya mudah terkesan, kalau udah terlanjur terkesan dan berharap, susah buat saya untuk nggak mikirin hal itu. Kalau saya udah terlanjur mikirin itu perasaan saya juga ikut nggak karuan, semuanya jadi terasa berantakan. Apalagi saya selalu penasaran, gimana kabarnya, gimana harinya, masih sama nggak perasaannya. Saya ngerasa selalu saya sendiri yang berusaha disetiap hubungan itu. Saya yang penasaran, saya yang berharap. Ujungnya ketika hubungan itu gagal, saya sendiri yang tenggelam sama perasaan sedih.”
Aku mulai paham kekhawatirannya. Aku tidak tega dan merasa bersalah ketika dia menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah itu menangis. Aku memberikan selembar tisu kepadanya.
“Tenangin dulu. Nggak papa. Emang sakit kalau perjuangan kita kayak nggak ada hasilnya selain sedih.” Ucapku. “Mungkin kamu memang terlalu baik sampai akhirnya seleksi alamnya panjang. Karena nggak sembarangan orang yang bisa milikin kamu.” Lanjutku. Terdengar seperti gombalan.
Setelah Kana sedikit tenang, dia kembali menatapku.
“Saya nggak mau nyakitin orang dan ngerasa sakit lagi. Saya rasa, saya emang belum siap dan berani untuk berurusan dengan perasaan.” Ucapnya.
“Iya, nggak papa. Tapi kalau saya yang berusaha deketin kamu duluan, masih boleh?” tanyaku, nekat.
“Kamu...” Kana menahan kalimatnya dan menghela napas, kesal.
“Nggak, ya?!” tanyaku.
“Kamu pengen sakit hati lagi?” tanya Kana.
“Kalau risikonya itu, ya nggak papa. Saya udah taruhan sama nyali ini, 100%. Dan saya rasa, nggak ada salahnya untuk kamu coba lagi. Kali ini, saya jamin, saya yang berusaha, kamu cukup diam aja. Ngelakuin aktivitas seperti biasa. Anggap aja saya lalat yang suka gangguin kamu. Kalau sewaktu-waktu kamu terganggu, tinggal setrum aja pake raket.” Ucapku.
“3 detik nggak jawab, berarti boleh.”
“Nggak!” ucap Kana tegas. “Maaf,” ucapnya kemudian.
“Tapi, kesepakatan sebelumnya bukan berarti hangus, kan?!”
“Saya harap kamu nggak ngatur kebetulan itu lagi, sama Bram.”
Aku menggaruk tengkukku, ternyata ketahuan juga.
“Berarti kalau beneran kebetulan, boleh?”
Kana terdiam.
“3 detik,”
“Tergantung.”
“Oke, nggak papa. Kita habisin dulu makanannya terus pulang, ya.” Ucapku dan memulai makan.
Entah aku tidak tahu rencana apalagi, tapi setidaknya masih ada kesempatan, walaupun sangat kecil.
Komentar
Posting Komentar