“Kana itu...” Bram menahan kalimatnya dan mengawang.
Setelah lewat satu minggu tidak ada kebetulan yang benar-benar terjadi, aku memutuskan untuk bertemu dengan Bram secara khusus untuk membicarakan tentang Kana.
“Gue sebenernya heran sih sama dia. Ibarat toko dia itu toserba. Ketika lo udah kenal lama sama Kana, maka lo bakalan nemu berbagai macam versi dari dia. Lo bisa lihat ketika dia baik, ketika dia jahat, dia usil, dia pendiam, dia yang malu dan malu-maluin. Dia yang serba bisa, karena kebanyakan masalah orang-orang di sekitarnya Kana yang bantuin selesain. Tapi walaupun dia kelihatan pinter, dia juga goblok, pelupa banget, bahkan baru 1 menit.” Bram mengambil jeda dan minum sebentar.
“Yang bakalan sering lo temuin dari Kana adalah sifat keras kepalanya. Dia itu gengsi minta tolong, jadi dia bakalan berusaha sampai mentok baru minta tolong.” Lanjutnya.
Aku mengangguk paham dan sedikit membayangkan sebisanya.
“Selain pelupa dan keras kepalanya, mood swingnya yang kayak cuaca ekstrim. Sebelumnya gue pernah kerja bareng dia, bener-bener sehari-hari sama dia, lihat dia kerja. Bisa loh pagi dateng dia happy selang satu jam kemudian dia jadi pendiem dan bad mood. Kalau udah kayak gitu, dia auto jadi singa, semua orang bisa aja jadi sasaran amukannya.”
“Wajarkan buat cewek?” tanyaku.
“Iya, sih. Tapi kalau Kana kayaknya terlalu ekstrim deh.” Ucap Bram.
“Dia itu bisa jadi orang yang peka juga bisa nggak peka. Entah pura-pura atau emang nggak peka. Perasa banget, bahkan Cuma denger kalimat manis aja bisa berkaca-kaca.”
“Itu juga wajar, kan?” tanyaku lagi.
“Emmm...terlalu sih. Pernah nggak lo lihat, cewek nangis pas lo tanya ternyata lihat video anjing yang nungguin kuburan majikannya?!”
Aku menggelengkan kepala.
“Yaaa...itulah, gue rasa memang anak satu itu bisa dibilang unik. Dia sendiri juga bilang gitu, dia ngerasa dapet kelebihan yang luar biasa dari Tuhan. Sayangnya, yang mereka yang bilang tertarik diawal sampai bikin Kana percaya, ujungnya kelar juga sampai bikin Kana jadi versi lebih beda lagi.”
“Kenapa yang sekarang?”
“Dia Cuma nunjukin sifat-sifatnya yang dulu ke temen-temen deketnya aja. Sifat dia yang ramah sama semua orang berkurang, apalagi ke laki-laki, dia kayak udah nggak percaya aja sama laki-laki. Makanya lo mungkin Cuma lihat versi Kana yang sangat-sangat dingin.”
“Yaa...jarang sih, dia lebih sering diam dan jutek.” Ucapku, walaupun aku sempat melihat dia versi menangis.
“Kalau lo emang serius, harusnya nggak berhenti sih Cuma gara-gara ini. Kalau gue jadi orang yang ngejar Kana, gue akan cari kenapa dia bisa jadi kayak gini. Pelan-pelan gue ajak ngobrol sampai akhirnya dia mau terbuka dan nemuin akar masalahnya. Itu yang pernah dia bilang ke gue waktu gue musingin Alea.”
“Ajaib, ya.” Ucapku.
“Dia bisa ngasih solusi buat orang lain, tapi dia bingung sama solusi hidupnya sendiri. Mungkin karena dia yang ngerasain dan udah suntuk sama perasaan itu sendiri, makanya otaknya buntu. Sedangkan masalah orang, dia sekedar ngelihat nggak ngerasain perasaannya, makanya otaknya full logika yang rata-rata emang jadi solusi.”
“Iya,” ucapku menanggapi. “Kayaknya gue rubah arah dulu, deh. Gue temenan aja sama dia gue gali dulu kayak yang lo bilang.” Tambahku.
“Coba aja, dulu. Kalau berhasil deket dan bikin dia percaya, lanjutin aja.” Ucap Bram.
Aku dan Bram melanjutkan obrolan lainnya sebelum akhirnya istrinya yang bernama Alea itu datang dengan wajah ngambek.
Komentar
Posting Komentar