Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA #3 CUACA EKSTRIM

“Kana itu...” Bram menahan kalimatnya dan mengawang.

Setelah lewat satu minggu tidak ada kebetulan yang benar-benar terjadi, aku memutuskan untuk bertemu dengan Bram secara khusus untuk membicarakan tentang Kana.

“Gue sebenernya heran sih sama dia. Ibarat toko dia itu toserba. Ketika lo udah kenal lama sama Kana, maka lo bakalan nemu berbagai macam versi dari dia. Lo bisa lihat ketika dia baik, ketika dia jahat, dia usil, dia pendiam, dia yang malu dan malu-maluin. Dia yang serba bisa, karena kebanyakan masalah orang-orang di sekitarnya Kana yang bantuin selesain. Tapi walaupun dia kelihatan pinter, dia juga goblok, pelupa banget, bahkan baru 1 menit.” Bram mengambil jeda dan minum sebentar.

“Yang bakalan sering lo temuin dari Kana adalah sifat keras kepalanya. Dia itu gengsi minta tolong, jadi dia bakalan berusaha sampai mentok baru minta tolong.” Lanjutnya.

Aku mengangguk paham dan sedikit membayangkan sebisanya.

“Selain pelupa dan keras kepalanya, mood swingnya yang kayak cuaca ekstrim. Sebelumnya gue pernah kerja bareng dia, bener-bener sehari-hari sama dia, lihat dia kerja. Bisa loh pagi dateng dia happy selang satu jam kemudian dia jadi pendiem dan bad mood. Kalau udah kayak gitu, dia auto jadi singa, semua orang bisa aja jadi sasaran amukannya.”

“Wajarkan buat cewek?” tanyaku.

“Iya, sih. Tapi kalau Kana kayaknya terlalu ekstrim deh.” Ucap Bram.

“Dia itu bisa jadi orang yang peka juga bisa nggak peka. Entah pura-pura atau emang nggak peka. Perasa banget, bahkan Cuma denger kalimat manis aja bisa berkaca-kaca.”

“Itu juga wajar, kan?” tanyaku lagi.

“Emmm...terlalu sih. Pernah nggak lo lihat, cewek nangis pas lo tanya ternyata lihat video anjing yang nungguin kuburan majikannya?!”

Aku menggelengkan kepala.

“Yaaa...itulah, gue rasa memang anak satu itu bisa dibilang unik. Dia sendiri juga bilang gitu, dia ngerasa dapet kelebihan yang luar biasa dari Tuhan. Sayangnya, yang mereka yang bilang tertarik diawal sampai bikin Kana percaya, ujungnya kelar juga sampai bikin Kana jadi versi lebih beda lagi.”

“Kenapa yang sekarang?”

“Dia Cuma nunjukin sifat-sifatnya yang dulu ke temen-temen deketnya aja. Sifat dia yang ramah sama semua orang berkurang, apalagi ke laki-laki, dia kayak udah nggak percaya aja sama laki-laki. Makanya lo mungkin Cuma lihat versi Kana yang sangat-sangat dingin.”

“Yaa...jarang sih, dia lebih sering diam dan jutek.” Ucapku, walaupun aku sempat melihat dia versi menangis.

“Kalau lo emang serius, harusnya nggak berhenti sih Cuma gara-gara ini. Kalau gue jadi orang yang ngejar Kana, gue akan cari kenapa dia bisa jadi kayak gini. Pelan-pelan gue ajak ngobrol sampai akhirnya dia mau terbuka dan nemuin akar masalahnya. Itu yang pernah dia bilang ke gue waktu gue musingin Alea.”

“Ajaib, ya.” Ucapku.

“Dia bisa ngasih solusi buat orang lain, tapi dia bingung sama solusi hidupnya sendiri. Mungkin karena dia yang ngerasain dan udah suntuk sama perasaan itu sendiri, makanya otaknya buntu. Sedangkan masalah orang, dia sekedar ngelihat nggak ngerasain perasaannya, makanya otaknya full logika yang rata-rata emang jadi solusi.”

“Iya,” ucapku menanggapi. “Kayaknya gue rubah arah dulu, deh. Gue temenan aja sama dia gue gali dulu kayak yang lo bilang.” Tambahku.

“Coba aja, dulu. Kalau berhasil deket dan bikin dia percaya, lanjutin aja.” Ucap Bram.

Aku dan Bram melanjutkan obrolan lainnya sebelum akhirnya istrinya yang bernama Alea itu datang dengan wajah ngambek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...