Kana dan Bram mengalami kecelakaan kerja. Waktu itu mereka sedang bekerja sama dan meninjau lokasi pembangunan bersama. Karena kelalaian keamanan salah satu pekerja lapangan, ada sebuah batu beton dengan ukuran cukup besar yang jatuh. Biasanya setiap kali ada pengerjaan di lantai atas, bagian lantai bawah akan di pasang jaring-jaring untuk antisipasi benda jatuh dari atas. Tapi hari itu, tidak ada jaring yang terpasang. Kana yang waktu itu tepat di bawahnya diselamatkan oleh Bram yang berakibat ia mengalami koma selama 1 bulan dan berakhir meninggal. Sedangkan Kana mengalami benturan ringan yang mengakibatkan separuh ingatannya hilang.
Aku terdiam, masih tidak percaya dengan semua cerita itu. Tapi secara logika memang masuk akal, karena Bram tidak mungkin tidak menghubungiku jika terjadi sesuatu, kecuali yang menimpa dirinya sendiri seperit ini.
“Terima kasih, kamu udah cerita. Maaf kalau itu jadi ngebuat kamu ingat sama kejadian tidak menyenangkan itu.”
“Sama-sama, saya sudah cukup membaik. Saya juga sudah bertemu dengan keluarga Bram untuk meminta maaf secara pribadi. Karena sebelumnya baru diwakilkan dari kantor.”
“Kalau begitu, saya pamit sekarang. Kalau ada apa-apa, hubungi saya ya.”
“Maaf, tapi apa saya pernah dekat dengan kamu?”
“Emmm...panjang juga ceritanya, mungkin lain kali ya kalau kita ketemu.” Ucapku.
Kana mengangguk dan mempersilakan untuk pulang.
Aku bergegas pulang dan mandi, bersiap untuk pergi ke salah satu cafe milik Bram, berharap aku bisa bertemu dengan istri atau orang yang bisa memberikan informasi lebih.
Benar saja, sampai di sana aku bertemu istrinya, Alea.
“Gue udah nyoba nyari keberadaan lo. Gue nyari nomor lo juga nggak dapet.” Ucap Alea.
“Iya, gue sempet pindah kota dan ganti nomor juga. Gue minta maaf dan turut berduka cita atas kepergian Bram. Sorry banget, gue nggak ada waktu itu.”
“Nggak papa, Dik. Gue udah bisa terima semuanya. Kemarin gue juga udah ketemu Kana. Dia lupa banyak hal, mungkin termasuk lo.”
“Iya, gue nggak sengaja ketemu dia tadi. Gue tahu ceritanya dari dia juga. Tapi rasanya kayak masih belum percaya.”
“Terus gimana menurut lo, soal Kana?”
“Jahat nggak sih kalau gue gunain kesempatan ini buat deketin dia lagi?”
“Emmm, menurut gue selama niat lo baik, nggak ada salahnya. Gue rasa dia juga butuh orang di dekatnya sekarang.”
“Gue perlu jujur nggak sama kejadian sebelumnya antara gue sama dia?”
“Kalau lo berani, jujur aja. Gue rasa Kana bukan orang yang benci sama lo, tapi dia benci karena saat itu harus ketemu sama laki-laki, lagi.”
“Oke, deh. Makasih ya, Al. Sama sekalian gue mau izin ke makamnya Bram, ya.”
“Oke, tapi sorry gue nggak nemenin ya.”
“Aman,”
Selesai berbincang dengan Alea, aku segera menuju makam Bram untuk mendoakannya. Selang beberapa hari, Kana menghubungiku meminta untuk bertemu dan itu membuatku kembali teringat ketika pertama kali kami janjian untuk bertemu.
Aku sengaja datang lebih awal untuk melihatnya masuk dan menyapaku lebih dulu. Masih sama, aku masih menemukan senyum manis itu di wajah Kana.
“Hai,” sapanya sambil melambaikan tangan. “Udah nunggu lama, ya?” tanyanya.
“Yaaa...mayan. Tapi nggak papa, mau pesen apa?”
“Emmm...cemilan aja, deh.”
Semua kalimatnya sama, aku masih benar-benar ingat itu. Hanya saja kali ini wajahnya lebih ramah.
“Kenapa kok senyum-senyum?” tanya Kana.
“Nggak papa, inget hal lucu aja.” Jawabku.
“Saya penasaran sama kamu,” ucapnya kemudian. “Makanya saya ajak ketemuan. Kira-kira ganggu waktu kamu nggak?” tanyanya.
“Nggak, mau tanya apa?” tanyaku.
“Kamu kenal saya gimana ceritanya? Terus kita udah kenal berapa lama? Saya nyoba inget tapi nggak bisa, malah sakit kepala lagi.”
“Pelan-pelan aja, jangan dipaksa.” Ucapku. “Saya Dika. Saya tahu soal kamu dari Bram. Saya tertarik dan berniat buat kenal lebih sendiri. Tapi waktu itu mungkin bukan waktu yang tepat, karena kamu masih belum mau membuka hati buat orang lain. Kita nggak bisa dibilang deket banget, karena saya Cuma bisa nanya soal kamu dari Bram, lihat kamu dari kejauhan. Waktu itu kamu benci banget sama saya karena saya terlalu berusaha deketin kamu terus. Sampai akhirnya saya sadar, memang perlu waktu. Bersamaan dengan saya yang dipindah tugaskan, jadi saya juga udah nggak tahu kabar apapun soal kamu.” Terangku.
“Maaf ya, kalau saya nyakitin perasaan kamu.” Ucap Kana.
“Ohh, nggak papa. Saya tahu dan paham situasinya, saya juga maaf karena terdengar memaksakan.”
“Waktu saya koma, ada satu ingatan yang bikin saya akhirnya bangun. Rasanya kayak baru ngalamin mimpi panjangggg banget. Saya nggak yakin wajahnya seperti apa, tapi pas saya lihat kamu pulang kemarin, cara jalan bentuk bahunya itu sama. Makanya, saya penasaran apa kita pernah ada hubungan dekat.”
“Aaaa, mungkin karena saya yang terakhir gangguin pikiran kamu ya, makanya di mimpi aja saya juga ganggu dan bikin kamu bangun. Tapi, itu juga hal yang bagus, kan?”
“Hahaha, iya, terima kasih. Kalau memang yang di mimpi itu kamu.”
“Sama-sama. Sekarang masih kerja di kantor yang sama?”
“Statusnya masih karyawan di sana, tapi selama masa pemulihan saya kerja dari rumah.”
Aku mengangguk.
“Emmm, mungkin terlalu dini. Tapi kalau kamu nggak keberatan, saya boleh kenal lebih dekat lagi?”
Kana terdiam sebentar. “Emmm, mungkin lebih tepatnya kita sama-sama kenal Kana lagi, karena jujur saya juga masih bingung dengan banyak hal dalam hidup saya sebelumnya dan selanjutnya.”
“Iya, ya. Pelan-pelan saya bantu setahu saya ya. Setahu saya, kamu dan saya sama-sama pernah mengalami kejadian yang nggak enak soal perasaan, yang ngebuat kita sama-sama berhenti mikirin soal itu bahkan berniat untuk nggak menikah. Tapi semenjak saya tahu cerita soal kamu, saya pengen berusaha lagi. Saya emang nggak bisa janjiin apa-apa, bahkan soal bahagia. Yang jelas saya akan berusaha sebisa mungkin biar kamu nggak ngerasain hal yang sama seperti sebelumnya. Saya berusaha biar kita bisa sama-sama bahagia.”
“Terima kasih, saya harap semua berjalan baik-baik aja. Karena, ada satu kemungkinan terjadi jika ingatan saya kembali nanti. Tentunya jika itu ingatan buruk, reaksinya juga bisa buruk. Saya harap kamu masih ada nemenin saya. Tapi, kalau kamu nggak bisa...”
“Saya berusaha selalu ada. Entah perasaan darimana, saya bisa ngerasain sakit setiap kali ngelihat kamu nangis atau sedih. Itu pertama kali saya rasakan saat di taman, sebelum saya tahu kalau kamu hilang ingatan.”
Aku mulai menceritakan sedikit-sedikit tentang Kana, tentu saja setahuku, berdasarkan apa yang diceritakan Bram. Sesekali aku mengajak Kana untuk mengunjungi Alea juga makam Bram. Selama masa pemulihan, sesekali aku menemani dia kontrol ke rumah sakit. Menemani dia bekerja di depan teras rumahnya. Sampai dia memutuskan untuk kembali masuk ke kantor.
Tanpa sadar, kami semakin dekat dan memutuskan untuk lebih serius dalam hubungan ini. Sejak awal, aku percaya bahwa dengan Kana aku akan menemui akhir yang bahagia, walaupun harus berawal dari penolakan keras Kana dan kejadian lainnya yang menimpa Kana. Satu persatu ingatannya juga kembali, tentang masa lalunya yang pahit pun kembali.
Waktu itu aku sedang membantunya membersihkan taman depan rumahnya, tiba-tiba terdengar barang pecah dari dalam dan aku menemukan Kana duduk meringkuk. Tangannya sedikit berdarah karena tergores. Perlahan aku mendekatinya kemudian memeluknya.
“Tenang, nggak papa. Aku masih di sini.” Ucapku sambil mengusap punggungnya. “Aku nggak akan ninggalin kamu.” Ucapku lagi. Terus berulang kali hingga Kana kembali sadar dan tenang.
Setelah itu kami hanya diam dan saling menatap. Aku terus menggenggam tangannya, antisipasi agar dia tidak secara tiba-tiba memukul atau mendorongku.
“Mau minum?” tanyaku.
Dia mencoba berdiri, “Aku bisa ambil sendiri.” Ucapnya kemudian melepaskan genggamanku.
“Aku keterlaluan ya?” tanya kemudian.
“Kenapa ngomong gitu?” tanyaku.
“Tiba-tiba aja, ada ingatan aku ngomong yang nggak enak sama kamu.”
“Itu dulu, waktu kamu belum siap buka hati sama orang lain.”
“Tapi, kegagalan aku sebelumnya juga karena omonganku kan?!”
“Mungkin iya mungkin nggak. Lagian itu juga dulu, waktu kamu masih muda, masih emosional, wajar aja.”
Aku membalikkan badannya dan kembali menggenggam tangannya.
“Kamu nggak perlu inget lagi masa lalu itu, kita hidup di waktu sekarang. Yang terpenting kamu bisa sehat, kamu bisa kerja kayak biasanya, aku juga masih di sini. Aku percaya sama kamu, Na. Aku percaya kalau kita ketemu setelah banyak hal yang kita alami masing-masing, itu bukan kebetulan, tapi takdir. Untuk saling menyembuhkan, untuk saling melengkapi, sama-sama bahagia. Aku yakin itu dari awal, sejak tahu kamu dari Bram. Aku sama kamu itu akhir yang bahagia, walaupun mungkin nggak mulus, nggak selalu menyenangkan, tapi semua akan berakhir dengan baik-baik aja.”
Kana memelukku dan kembali menangis. “Perasaan kamu nggak berubah, kan?” tanyanya.
“Justru aku yang tanya ke kamu, walaupun kamu inget beberapa hal lagi, perasaan kamu nggak berubah, kan?”
“Nggak, tapi aku takut kamu pergi.”
“Nggak, Na. Aku temenin sampai kamu mau aku ajak nikah.”
“Terus habis nikah, kamu tinggalin?”
“Hahaha, ya nggaklah, kalau udah nikah kan nemeninnya jadi lebih leluasa. 24 jam.”
“Dipotong jam kerja, masak kita nggak kerja?!”
“Hahaha, iya. Jangan sampai berubah ya perasaannya.”
Kana mengangguk.
“Kapan kamu mau ngajak aku nikah?”
“Kamu siapnya kapan?”
“Sekarang?” Kana melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Yakin?”
“Iya,”
“Oke, kita mulai siapin ya berkas-berkasnya. Sama, setelah kita beresin rumah, kita pergi cari cincinnya.”
“Emmm, oke. Sederhana aja, ya.”
“Lihat nanti, deh.”
Kami saling tertawa dan kembali berpelukan. Akhir bahagia yang kami nantikan telah tiba, walaupun awalnya semua terlihat tidak mungkin, karena luka masing-masing, namun keberanian untuk bertahan dan mengusahakan semua ini tidak akan sia-sia.
Komentar
Posting Komentar