Semenjak obrolan dengan Bram malam itu, terhitung sudah tiga bulan aku tidak bertemu dengan Kana, baik sengaja maupun secara kebetulan. Aku juga jarang bertemu Bram karena sempat pindah kantor ke luar kota. Hari-hari berjalan biasa saja, bahkan setelah aku kembali. Ada kalanya aku melupakan soal rencana itu ada kalanya aku juga teringat bahkan terbayang sosok Kana. Dan lagi, akhir pekan yang aku sendiri bingung akan melakukan apa. Pada akhirnya aku memutuskan untuk lari pagi dan mencari sarapan di luar.
Tapi, baru saja berlari satu kali putaran, nafasku sudah putus nyambung. Maklum aku memang tidak pernah melakukan olahraga. Aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di area taman. Tak jauh dari situ, aku mendengar kegaduhan antara pesepeda dengan pemotor. Karena penasaran aku ikut mendekat dan tak ku sangka, dalam kerumunan itu ada Kana.
Dia hanya diam sambil memegang sepedanya dan mendengarkan ocehan seorang ibu-ibu. Beberapa orang lainnya membantu membereskan belanjaan dan sepeda motor yang sedikit menghalangi lalu lintas. Ketika emosi ibu sudah selesai meluap aku menyela dan berdiri di dekat Kana.
“Uhh, maaf ya bu atas kejadian pagi ini. Ibu ada luka? Saya bantu obati.” Ucapku.
“Kamu siapa?”
“Saya saudara perempuan ini, Bu. Biasanya saya yang nemenin dia naik sepeda, tapi hari ini saya milih lari. Jadi maaf, karena ini juga kesalahan saya.”
“Udah, saya nggak papa. Lain kali dijaga bener-bener.”
“Kalau ada kerusakan atau butuh bantuan apapun, ibu bisa hubungi saya bu. Boleh saya pinjam handphone-nya?”
Ibu itu memberikan HP-nya dan aku segera menuliskan digit nomorku.
“Terima kasih, bu. Atas pengertiannya, semoga ini bisa manjadi pelajaran untuk kami.”
Tanpa menjawab, ibu itu langsung berbalik pergi, kerumunan mulai memudar dan tersisa aku dan Kana.
Aku menghela napas, entah kenapa aku gugup akan menghadapi Kana. Aku melirik sebentar, Kana masih terdiam.
“Maaf kalau saya lancang. Tapi cara paling ampuh ngelawan ibu-ibu Cuma nurutin apa yang dia mau aja.” Ucapku kemudian.
“Makasih,” ucapnya kemudian berjalan sambil menuntun sepedanya.
Jalannya sedikit pincang dan sikunya berdarah.
“Kana,” panggilku dan mengikuti langkahnya yang pelan. “Kali ini aja, saya bantu obatin ya.” Lanjutku. Dia hanya mengangguk, mungkin masih terkejut dan bingung harus bagaimana, karena setahuku Kana tidak bisa mendengar bentakan.
Aku memintanya untuk duduk di salah satu bangku taman, menungguku membeli plester luka dan obat merah, juga keperluan lainnya. Dari kejauhan aku melihat Kana yang hanya menatap kosong, sesekali dia mengusap matanya. Entah kenapa, aku juga merasakan sesak ketika melihatnya seperti itu. Rasanya, aku ingin segera memeluknya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
“Ehemm..” aku berdehem, memberi isyarat bahwa aku sudah sampai. “Minum dulu.” Ucapku sambil memberikan sebotol air mineral yang sudah aku bukakan. Dia menerima dan meminumnya pelan.
Aku membuka botol lain untuk membasuh luka di siku dan kaki Kana.
“Maaf, ya, sedikit perih.” Ucapku. Tentu tidak ada tanggapan, tapi selama dia tidak pergi aku menganggap dia mendengar dan setuju dengan yang aku lakukan.
“Emang tadi kenapa kalau boleh tahu?” tanyaku.
“Rem dadakan.” Jawabnya singkat.
“Kamu?” tanyaku lagi.
“Iya,”
“Kenapa?”
“Sakit.”
“Apa yang sakit?”
Kana diam, aku melihat ke arahnya yang sudah menangis. Aku melanjutkan mengobati luka-lukanya. Setelah selesai, aku duduk di sampingnya sambil menepuk pelan pundaknya. Aku membiarkan dia menangis sampai lega. Sampai dia mau berhenti sendiri. Ada mungkin 30 menit.
“Minum lagi,” ucapku setelah dia berhenti menangis. “Mau pulang atau di sini dulu?” tanyaku.
“Saya di sini dulu, kamu kalau mau pulang nggak papa.” Jawabnya.
“Kenapa nggak pulang?”
“Malu, jalanan masih rame.”
“Hahahha, Kana...Kana....” aku refleks tertawa namun berujung mendapat tatapan sinis darinya.
“Maaf...maksudnya... saya bantu antar aja, kasihan kalau di sini sendirian.”
“Muka saya jelek banget kalau habis nangis.” Ucapnya lagi sambil menutupi wajahnya.
“Kayaknya semua orang mukanya bakal jelek deh kalau habis nangis 30 menit.” Ucapku.
Aku melepas topi dan memberikan kepadanya.
“Pakai ini aja, kan nggak kelihatan.” Ucapku sambil memberikan topi tersebut.
“Kamu...saya kenal kamu di mana ya?” tanyanya.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Saya sempat kecelakaan kerja yang cukup parah dan hampir setengah ingatan saya hilang. Tadi saya tiba-tiba sakit kepala makanya rem tiba-tiba.” Ucapnya sambil melihat ke arahku.
Aku menatapnya, tidak ada kebohongan di matanya. Tapi aku masih tidak paham dengan ucapannya.
“Saya...pernah ketemu kamu sekali. Saya nggak tahu kalau kamu sempat kecelakaan karena saya pindah tugas sementara dan baru kembali minggu ini.”
“Terima kasih, maaf ya saya merepotkan. Tadi saya kira, kamu beneran saudara saya tapi saya yang lupa.”
Aku tersenyum masam. Kemudian mengajaknya segera berdiri untuk pulang.
Selama diperjalanan kami hanya diam. Aku masih bingung dengan situasi ini. Yang membuatku kesal adalah Bram, kenapa dia tidak memberitahuku soal ini.
“Udah sampai, terima kasih.” Ucap Kana mengembalikan topiku.
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Kamu bawa handphone?” tanyaku.
“Iya,”
“Saya boleh pinjam?”
“Buat?”
“Saya kasih nomor saya, kalau misal kamu kesulitan dan butuh bantuan saya.”
Dengan ragu, Kana tetap memberikan ponselnya. Tapi sempat menahannya sebentar, matanya menaruh kecurigaan.
“Saya nggak akan ambil handphone kamu.” Ucapku dengan sedikit tertawa, barulah dia melepaskannya.
“Saya temannya, Bram.” Ucapku sambil mengembalikan HP tersebut.
“Kamu kenal sama Bram?” tanyanya dengan wajah tidak percaya.
“Iya, kenapa?” jawabku dengan bertanya.
“Kamu keberatan nggak kalau mampir sebentar di teras rumah saya? Ceritanya panjang.”
Aku menggeleng dan mengikuti Kana dan cerita dimulai.
Komentar
Posting Komentar