Bait mematikan layar ponselnya, begitu juga dengan Tatia di tempat yang berbeda. Pukul sebelah malam beberapa hari sebelumnya menjadi waktu yang paling ditunggu keduanya, karena mereka akan saling bercerita tentang kejadian hari itu, kemudian dari pesan tersebut akan berlanjut besok pagi, siang, sore, hingga bertemu malam lagi.
Dalam hubungan yang sudah berjalan hampir satu tahun ini, mereka sudah terbiasa berdebat, kemudia saling diam, dan kembali berbaikan. Namun, sepertinya Tuhan berkata lain, malam ini berdebatan mereka berujung usai. Tatia menyerah dan memutuskan untuk berpisah dengan Bait. Bait yang biasanya membujuk, kali ini memilih pasrah dan mengiyakan ucapan Tatia.
Bait menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya memandang jauh ke langit yang cerah malam itu. Ada sedikit perih yang ia rasakan, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Mengingat bahwa dia sudah merancang banyak hal dengan Tatia, ia ingin membawa hubungan ini ke pernikahan, mengajak Tatia pergi bersama untuk menyadarkan bahwa ada banyak hal yang menyenangkan di luar sana. Begitu juga dengan Tatia, ia tidak sabar untuk bisa bercerita dengan Bait sebelum mereka tidur, bermain ke pantai, mencoba mendaki gunung dan melakukan camping di sana.
Namun semuanya menguap di malam ini. Melalui pesan singkat ucapan terima kasih dan permintaan maaf satu sama lain yang diakhiri dengan 'mari kita lanjutkan hidup dan mimpi masing-masing' yang dikirim oleh Tatia dan hanya sanggup Bait baca tanpa mengiyakan kalimat itu. Ia segera menyimpan ponselnya kembali menikmati keindahan malam ini, dengan harapan ia segera lelah dan bisa langsung tertidur.
Komentar
Posting Komentar