Langsung ke konten utama

BKN #1 Bisa nggak sih, kalau nggak usah nikah?

‘Kayaknya kita nggak cocok’  

Harusnya itu yang dia bilang ke gue waktu pertemuan kedua itu.  

Bukannya malah nekat lanjut dan ujungnya gue lagi yang sakit hati karena berakhirnya hubungan ini. 

Harusnya keresahan dan keraguan yang dia rasakan itu jadi bahan obrolan kita dari pagi sampai sebelum tidur.  

Bukannya malah hilang tiba-tiba, nggak ada kabar, sampai berbulan-bulan, terus balik lagi seolah nggak ninggalin apa-apa, apalagi ngerasa salah. 

Harusnya gue marah waktu dia balik. Karena itu hak gue.  

Tapi, gue nahan itu biar dia nggak kabur, dengan harapan dia bakalan cerita dengan sendirinya tentang alasan silent treatment itu, biar hubungan ini tetap berjalan dan baik-baik aja sesuai apa yang kita rencanakan. 

Harusnya, gue dengerin komentar Jojo soal dia. Ternyata memang dari awal dia nggak pernah seserius ucapannya sendiri. 

Masih ada lagi, harusnya dia bisa berusaha sabar waktu gue minta break 1 minggu. Seenggaknya kalau dia emang udah ragu sama hubungan ini, bilang diawal waktu gue balik lagi. Bukan bersikap dingin dan bikin gue mikir untuk kesekian kalinya, apa yang salah sama gue. Yang setelah gue pikir itu salah dia sendiri yang dari awal nggak pernah mau jujur sama perasaannya. Dia yang nggak pernah mau ngungkapin itu karena pertimbangan bodoh. Dia yang terlalu pengecut dengan dalih nggak enak hati, takut nyakitin perasaan orang lain. 

TAI KUCING!!!! 

“Asal lo tahu, omongan gue soal berhenti kalau hubungan ini gagal, itu bukan ancaman buat lo pergi, anjing!!!” 

“Gue beneran udah nyerah sama urusan nyari-nyari jodoh gini!”  

Kana mengomel di hadapan dua temannya dengan kesadaran penuh, tanpa setetes alkohol. Satu‑satunya yang ia minum malam itu hanya sebotol air mineral 600 ml, yang habis dalam sekali tenggak. 

Malam ini adalah pertemuan pertama mereka setelah enam bulan sibuk dengan dunia masing‑masing. Johan dan Nia hanya saling menahan tawa melihat tingkah sahabatnya. Ini bukan pertama kalinya Kana mengeluh soal hubungannya yang gagal. 

Bedanya, kali ini dia mabuk air mineral, bukan mabuk sungguhan. Kana sengaja melakukan gimmick seperti orang mabuk, supaya dia bisa meluapkan semuanya tanpa perlu mikir perasaan siapa pun, tanpa ngerasa malu.

“Emang harusnya lo dengerin orang netral, sih,” ucap Nia sambil nyodorin sebotol air mineral lagi. 

“Biar penilaiannya objektif, nggak main perasaan.” 

“Yaaa… karena semua udah kejadian, ikhlasin aja. Lakuin apa yang lo mau sekarang,” lanjutnya. 

“Kecuali seks bebas, ya! Jangan mentang-mentang gagal nikah terus lo nyari jalur lain buat nikah.” 

“Gue masih waras kali!” protes Kana. 

“Terus, lo masih tahu kabar dia sekarang?” Nia mengembalikan fokus obrolan malam itu. 

Kana memberi jeda. Matanya mengawang, ekspresinya perlahan runtuh. 

“Hal paling anjing menurut gue…beberapa bulan setelah gue bilang kami selesai, dia udah ngelamar perempuan lain.” 

Kana menelan ludahnya. 

“Nikah di bulan yang pernah kami rencanain sebelumnya.” 

Suasana langsung sendu. Wajah Kana terlihat kecewa. Johan dan Nia menatapnya dengan iba. 

“Ancur semuanya!” ucap Kana pelan. 

“Perasaan gue, harapan gue, rencana gue. Hancur sama dia.” 

Ia kembali menenggak sisa air mineral di botolnya. 

“Tenang ya, Na,” kata Nia sambil mengelus lengannya. 

“Gue yakin dia bangsat! Udah lebih dari tai anjing atau kucing.” 

Johan menyahut sambil bersandar. 

“Pasti ada hal-hal dari kalian yang nggak sejalan. Mending nggak jadi nikah daripada hal sepele jadi bahan bakar masalah rumah tangga.” 

Kana mengangguk pelan masih dengan wajah cemberut. 

“Setelah gue tahu semuanya, gue malah bersyukur nggak jadi nikah sama dia. Gue tahu dia hobi touring. Awalnya gue pikir nggak masalah kalau cuma sesekali ikut.” 

Kana tersenyum sinis.

“Nggak tahunya, tiap touring dia maunya sama pasangan. Bikin video estetik ala-ala. Gue nggak nyampe energinya buat itu semua. Gue juga nggak nyaman di depan kamera.” 

“Sedangkan dia jelas orang yang bosen sama hening,” lanjutnya. 

“Bosen sama tenang. Bosen di rumah.” 

“Nah, ketemu kan,” ujar Johan. 

“Kalau dipaksa nikah, ujung-ujungnya debat. Yang satu ngerasa kurang diperhatiin, yang satu ngerasa dikekang.” 

“Emang nggak ada jalan tengahnya, ya?” Kana bertanya lirih. 

“Lo ngapain nyari jalan tengah?” potong Nia. 

“Dia aja puter balik ninggalin lo tanpa ngomong. Masih aja ngarep jalan tengah!” 

“Iya, ya.” Kana lagi-lagi menunjukkan gestur pasrah.

“Kebiasaan bodoh waktu jatuh cinta ternyata masih ada juga.” celetuk Johan. 

Kana terkekeh, “Hahaha. Iya, ya. Dari awal malah.” 

“Sadarnya belakangan lagi!” tambah Nia. 

“Namanya juga orang buta hati pas lagi jatuh cinta.” 

“Bukan!” bantah Kana. 

“Orang jadi buta hati karena jatuh cinta.” 

Nia langsung memeluk Kana, memberi hangat agar sahabatnya tak larut dalam kesedihan terlalu jauh. Johan ikut mendekat, menepuk pelan pundak Kana beberapa detik.

"Bisa nggak sih, kalau nggak usah nikah aja?!" Kana bertanya lagi.

"Kalau mau bilang, nanti siapa yang nemenin pas tua? Gue udah ada jawabannya."

"Apa?"

"Siapa juga yang mau hidup sampai tua?!"

"Kocak sih kata gue!" Johan memukul kepala Kana dengan botol air mineral kosong. 

Mereka refleks tertawa. Kemudian melanjutkan obrolan dengan topik lain, hingga tengah malam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...