‘Kayaknya kita nggak cocok’
Harusnya itu yang dia bilang ke gue waktu pertemuan kedua itu.
Bukannya malah nekat lanjut dan ujungnya gue lagi yang sakit hati karena berakhirnya hubungan ini.
Harusnya keresahan dan keraguan yang dia rasakan itu jadi bahan obrolan kita dari pagi sampai sebelum tidur.
Bukannya malah hilang tiba-tiba, nggak ada kabar, sampai berbulan-bulan, terus balik lagi seolah nggak ninggalin apa-apa, apalagi ngerasa salah.
Harusnya gue marah waktu dia balik. Karena itu hak gue.
Tapi, gue nahan itu biar dia nggak kabur, dengan harapan dia bakalan cerita dengan sendirinya tentang alasan silent treatment itu, biar hubungan ini tetap berjalan dan baik-baik aja sesuai apa yang kita rencanakan.
Harusnya, gue dengerin komentar Jojo soal dia. Ternyata memang dari awal dia nggak pernah seserius ucapannya sendiri.
Masih ada lagi, harusnya dia bisa berusaha sabar waktu gue minta break 1 minggu. Seenggaknya kalau dia emang udah ragu sama hubungan ini, bilang diawal waktu gue balik lagi. Bukan bersikap dingin dan bikin gue mikir untuk kesekian kalinya, apa yang salah sama gue. Yang setelah gue pikir itu salah dia sendiri yang dari awal nggak pernah mau jujur sama perasaannya. Dia yang nggak pernah mau ngungkapin itu karena pertimbangan bodoh. Dia yang terlalu pengecut dengan dalih nggak enak hati, takut nyakitin perasaan orang lain.
TAI KUCING!!!!
“Asal lo tahu, omongan gue soal berhenti kalau hubungan ini gagal, itu bukan ancaman buat lo pergi, anjing!!!”
“Gue beneran udah nyerah sama urusan nyari-nyari jodoh gini!”
Kana mengomel di hadapan dua temannya dengan kesadaran penuh, tanpa setetes alkohol. Satu‑satunya yang ia minum malam itu hanya sebotol air mineral 600 ml, yang habis dalam sekali tenggak.
Malam ini adalah pertemuan pertama mereka setelah enam bulan sibuk dengan dunia masing‑masing. Johan dan Nia hanya saling menahan tawa melihat tingkah sahabatnya. Ini bukan pertama kalinya Kana mengeluh soal hubungannya yang gagal.
Bedanya, kali ini dia mabuk air mineral, bukan mabuk sungguhan. Kana sengaja melakukan gimmick seperti orang mabuk, supaya dia bisa meluapkan semuanya tanpa perlu mikir perasaan siapa pun, tanpa ngerasa malu.
“Emang harusnya lo dengerin orang netral, sih,” ucap Nia sambil nyodorin sebotol air mineral lagi.
“Biar penilaiannya objektif, nggak main perasaan.”
“Yaaa… karena semua udah kejadian, ikhlasin aja. Lakuin apa yang lo mau sekarang,” lanjutnya.
“Kecuali seks bebas, ya! Jangan mentang-mentang gagal nikah terus lo nyari jalur lain buat nikah.”
“Gue masih waras kali!” protes Kana.
“Terus, lo masih tahu kabar dia sekarang?” Nia mengembalikan fokus obrolan malam itu.
Kana memberi jeda. Matanya mengawang, ekspresinya perlahan runtuh.
“Hal paling anjing menurut gue…beberapa bulan setelah gue bilang kami selesai, dia udah ngelamar perempuan lain.”
Kana menelan ludahnya.
“Nikah di bulan yang pernah kami rencanain sebelumnya.”
Suasana langsung sendu. Wajah Kana terlihat kecewa. Johan dan Nia menatapnya dengan iba.
“Ancur semuanya!” ucap Kana pelan.
“Perasaan gue, harapan gue, rencana gue. Hancur sama dia.”
Ia kembali menenggak sisa air mineral di botolnya.
“Tenang ya, Na,” kata Nia sambil mengelus lengannya.
“Gue yakin dia bangsat! Udah lebih dari tai anjing atau kucing.”
Johan menyahut sambil bersandar.
“Pasti ada hal-hal dari kalian yang nggak sejalan. Mending nggak jadi nikah daripada hal sepele jadi bahan bakar masalah rumah tangga.”
Kana mengangguk pelan masih dengan wajah cemberut.
“Setelah gue tahu semuanya, gue malah bersyukur nggak jadi nikah sama dia. Gue tahu dia hobi touring. Awalnya gue pikir nggak masalah kalau cuma sesekali ikut.”
Kana tersenyum sinis.
“Nggak tahunya, tiap touring dia maunya sama pasangan. Bikin video estetik ala-ala. Gue nggak nyampe energinya buat itu semua. Gue juga nggak nyaman di depan kamera.”
“Sedangkan dia jelas orang yang bosen sama hening,” lanjutnya.
“Bosen sama tenang. Bosen di rumah.”
“Nah, ketemu kan,” ujar Johan.
“Kalau dipaksa nikah, ujung-ujungnya debat. Yang satu ngerasa kurang diperhatiin, yang satu ngerasa dikekang.”
“Emang nggak ada jalan tengahnya, ya?” Kana bertanya lirih.
“Lo ngapain nyari jalan tengah?” potong Nia.
“Dia aja puter balik ninggalin lo tanpa ngomong. Masih aja ngarep jalan tengah!”
“Iya, ya.” Kana lagi-lagi menunjukkan gestur pasrah.
“Kebiasaan bodoh waktu jatuh cinta ternyata masih ada juga.” celetuk Johan.
Kana terkekeh, “Hahaha. Iya, ya. Dari awal malah.”
“Sadarnya belakangan lagi!” tambah Nia.
“Namanya juga orang buta hati pas lagi jatuh cinta.”
“Bukan!” bantah Kana.
“Orang jadi buta hati karena jatuh cinta.”
Nia langsung memeluk Kana, memberi hangat agar sahabatnya tak larut dalam kesedihan terlalu jauh. Johan ikut mendekat, menepuk pelan pundak Kana beberapa detik.
"Bisa nggak sih, kalau nggak usah nikah aja?!" Kana bertanya lagi.
"Kalau mau bilang, nanti siapa yang nemenin pas tua? Gue udah ada jawabannya."
"Apa?"
"Siapa juga yang mau hidup sampai tua?!"
"Kocak sih kata gue!" Johan memukul kepala Kana dengan botol air mineral kosong.
Mereka refleks tertawa. Kemudian melanjutkan obrolan dengan topik lain, hingga tengah malam.
Komentar
Posting Komentar