Rasanya aneh. Udara jadi terasa kering.
Gue setengah sadar, jalan tanpa benar‑benar tahu mau ke mana.
Waktu itu pukul tujuh malam. Ruang tunggu rumah sakit mulai sepi.
Cuma ada beberapa orang berlalu‑lalang menuju lorong yang lebih dalam, yang entah kenapa gue yakini jauh lebih ramai. Jauh lebih sesak.
Akhirnya gue duduk di salah satu bangku. Berusaha mengatur napas, berharap pikiran gue bisa fokus dan lebih tenang.
Gue lepas masker karena rasanya sesak. Gue taruh tas kerja, karena rasanya berat. Tapi ternyata nggak ada yang berubah.
Rasanya masih sama.
Terus gue harus gimana?
Satu pertanyaan itu muncul, tenggelam, lalu muncul lagi di antara ratusan pertanyaan lain yang berisik di kepala gue.
Gue bersandar, mencoba mencerna ulang kejadian beberapa waktu sebelumnya.
Panggilan telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa hasil tes kesehatan yang gue lakuin minggu lalu sudah keluar.
Gue nggak benar‑benar paham ketika mereka menjelaskan. Semua kalimatnya campur aduk di kepala gue.
Yang gue inget jelas cuma satu, semuanya harus segera ditangani supaya tidak semakin parah.
Tapi dokternya lupa, atau mungkin nggak sempat ngasih tahu, gue harus mulai dari mana dan gimana. Atau justru gue yang nggak denger, karena terlalu kaget sama episode kali ini. Episode ke-27 tahun.
Sejauh ini gue cuma bisa bilang satu hal: hidup gue keren juga.
Udah kayak naik roller coaster, dari seneng, jalan pelan‑pelan, sampai akhirnya wooshhhh, jantung gue rasanya mau copot.
Kurang lebih dua puluh menit gue duduk di tengah kehebohan isi kepala ini, sampai akhirnya telepon dari Ale masuk.
Temen gue. Deket. Tapi kami cuma temenan.
Dia sempat bilang bakal jemput gue kalau urusan rumah sakit sudah selesai.
“Ya, Le?” Gue menyapanya lebih dulu.
“Udah kelar belum?” Dia bertanya.
“Udah. Tapi kayaknya gue balik sendiri aja deh. Mau ke kantor bentar.”
“Lah, ngapain?”
“Ambil berkas.”
“O.RA.N.G. G.I.L.A. K.E.R.J.A.”
Ale langsung nutup telepon.
Gue nggak heran. Kalau dia muak sama kelakuan gue, reaksinya memang selalu begitu, pergi gitu aja. Tapi sebenarnya dia nggak benar‑benar pergi. Kadang tiba-tiba dia nunggu gue di kantor, untuk maksa gue buat nurut sama dia. Dia akan datang ke tempat yang akan gue kunjungi.
Yang ajaib darinya hari ini, ternyata dia udah di sini.
“Ada orang mau ambil berkas,” katanya sambil berdiri di depan gue,
“Tapi duduk lama di sini nggak jelas! Kayak orang ilang!”
Ale langsung duduk di sebelah gue.
Hidup gue memang ajaib. Ale salah satunya.
“Kenapa hasilnya?” tanya Ale.
“Kurang bagus. Tapi ya udah. Udah terlanjur.”
“Terus disuruh apa?”
“Menindaklanjuti semua ini biar nggak makin parah.”
Gue diam sebentar.
“Tapi gue lupa nanya harus mulai dari mana dan gimana.”
Ale menghela napas.
“Ya lo ke sini nggak lihat waktu. Ini udah jam istirahat dokter. Besok ke sini lagi, gue temenin. Nggak usah ke kantor.” ucapnya.
“Kalau seandainya nggak ketolong,” gue bicara dengan suara pelan,
“Terus lewat…orang rumah gimana ya, Le?”
Gue dan Ale saling bertatapan.
“Nanti dulu mikirnya. Satu‑satu,” jawabnya cepat.
“Yang penting lo dulu.” ucapnya sambil menoyor pelan kepala gue.
“Entar gue nitip ke lo aja kali, ya.”
Tanpa ngomong apa‑apa, Ale langsung peluk gue.
“Diem,” ucapnya lirih.
Sekitar sepuluh detik kemudian dia lepas pelukannya.
“Lo mau apa sekarang?” tanyanya.
Gue nggak bisa jawab.
Entah kenapa, semuanya kayak ketahan di tenggorokan.
“Nangis kalau lo nggak tahu,” kata Ale pelan.
“Udah terlalu banyak yang lo tahan.”
Gue natap dia beberapa detik.
Lalu pecah.
Tangis yang ternyata tanpa sadar sudah lama gue simpan.
Komentar
Posting Komentar