Langsung ke konten utama

BKN #3 Hubungan yang Lama, Berangkat dari Teman

Ada banyak hal di dunia ini, manusia, tumbuhan, cuaca, hewan, udara, keajaiban dunia. Tapi tetep aja cuma males yang mengendap di dalam tubuh gue. Kalau saklar males gue nyala, jangankan gerak, napas aja rasanya, entar dah, tidur dulu. 

Dan hal yang paling mengagumkan, gue bisa bertahan sampai usia 28 tahun, dimana sekitar 8 tahunnya gue hidup dengan banyak kemalasan. Rasanya semakin bertambah usia, maka semakin bertambah tuntutan dan lainnya. Pekerjaan, keyakinan, tampilan wajah, pilihan fashion, keuangan, pasangan. Bayangin aja, baru sekali ini hidup, nggak ada yang ngasih contoh gimana-gimana, tiba-tiba disuruh mikirin itu semua bersamaan dalam satu waktu. Ada sih penundaan, tapi paling jeda hitungan bulan, paling lama setahun. Habis itu pasti bakalan ditanyain soal lainnya. 

Dan dari kesemuanya itu, menurut gue yang paling menyiksa adalah soal pasangan, karena sampai sekarang gue juga nggak tahu harus mulai darimana untuk memecahkan masalah itu. Satu-satunya pasangan dalam hidup gue adalah Nero sama Simba, yaitu Laptop gue dan PC di kantor. 

Hampir tiap weekend gue ngedate sama Nero, karena kerjaan yang nggak kelar-kelar. Sama kayak hari ini, udah satu jam lebih gue habiskan di cafe tempat biasa gue WFA, tapi nggak ada satu kerjaan pun yang selesai. Karena gue M.A.L.E.S. 

“Tenang, ada gue.” 

Alfa dateng dengan kresek putih dan mengeluarkan 1 cup pudding yang biasa gue beli. Dengan telaten, dia membukakan segel cup dan menyiapkan sendoknya. 

“Silakan dinikmati, tuan putri.” 

Ucapnya sambil menyajikan pudding itu dihadapan gue. 

Gue memotong sedikit dari pudding itu dan menyuapkan ke mulut. Beberapa detik kemudian gue tersenyum merasakan betapa nikmatnya pudding tersebut. 

“Enak, kan?” tanya Alfa 

“Bangett! Makasih, ya!” 

Alfa mengangguk kemudian dia mengambil alih laptop gue. 

Dia adalah satu-satunya manusia dengan jenis kelamin laki-laki yang dekat sama gue, tapi kami cuma temen. Kami udah temenan sejak SMP, waktu itu dia dibully sama kakak kelas dan gue bantuin dia buat kabur. Walaupun akhirnya kami semua sama-sama dipanggil guru BP. Tapi setelah kejadian itu, gue sama Alfa nggak pernah digangguin lagi, tiap kali mereka lihat gue sama Alfa, mereka langsung pergi. 

Seiring berjalannya waktu ternyata sebuah kebetulan bikin gue sama Alfa ketemu lagi karena kerja di kantor yang sama tapi beda bidang. Di kantor, Alfa terkenal orang yang baik ke semua rekan kerjanya, problem solver, makanya banyak banget yang deket sama dia. Setahu gue, dari gosip yang tersebar di kantor, udah belasan cewek yang dia tolak dengan alasan nggak jelas. 

“Lo susah nggak sih, nyari pasangan?” 

Gue bertanya disela-sela menghabiskan pudding dari Alfa. 

“Harusnya sih nggak, ya. Tapi...” 

Dia mengambil jeda untuk berpikir. 

“Mungkin gue yang terlalu kaku buat nerima orang untuk jadi pasangan gue.” 

“Dih, jadi orang kufur nikmat banget. Allah ngasih kemudahan, malah lo sia-siain.” 

“Bukan gitu, kayaknya fokus gue juga nggak ke situ deh. Gue lebih suka kerja.” 

Gue mengangguk mendengar jawaban dia, yang memang diluar nalar umum manusia. 

“Tumben lo nanya kayak gitu? 

Alfa ganti bertanya kepada gue. 

“Tiba-tiba aja. Kepikiran. Kita udah 28 tahun loh, Fa.” 

“Terus?” 

“Orang seumuran kita udah pada nikah, bahkan mungkin udah punya anak.” 

“Nggak, semua. Nyatanya kita masih sendiri-sendiri.” 

“Iya, umumnya. Kita kayaknya pengecualian deh.” 

“Lo suudzon sama Alloh kalau kayak gitu!” 

“Bukan, gitu. Maksud gue, timeline kita sendirian itu lebih panjang daripada orang lain.” 

“Lo pernah mikir, nggak?! Sebenernya Alloh udah ngeset semua sama secara garis waktu, tapi manusianya yang nggak usaha makanya jadi lama.” 

“Contoh?” 

“Lo lahir diajari sebuah keyakinan dalam keluarga lo, akhirnya lo imani, tapi lo nggak ngelakuin kewajiban dalam keyakinan tersebut. Nggak ibadah, nggak doa. Ketika lo usaha dan berhasil, lo sombong, karena lo merasa pinter, makanya lo  berhasil. Tapi giliran lo gagal, lo mulai nyalah-nyalahin Tuhan nggak adil-lah, ini-lah. Makanya timeline hidup lo dengan sendirinya bisa aja berubah karena lo sendiri.” 

Gue diem karena masih mencerna ucapan Alfa. 

“Alloh udah nentuin semuanya, termasuk waktunya, tapi adakalanya ketika waktu dan kesempatan itu tiba, ternyata orangnya nggak siap, ya Alloh bisa aja tunda, itu karena Alloh nggak mau lihat hamba-Nya sengsara, atau ngelihat hamba-Nya yang nggak mampu kalau ngelewatin masalah itu. Dan itu cuma untuk orang yang iman aja sama agama-Nya.” 

“Jadi?” 

“Makin tua harusnya lo makin sadar untuk memperbaiki keimanan lo, nggak cuma materi dunia doang yang lo tingkatin. Kalau ibadah lo bener, akhlak lo baik, nggak akan dipersulit hidup lo.” 

“Iya, ya. Kalau dipikir kita sama-sama dikasih banyak kesempatan deket sama orang, tapi ada aja gitu yang bikin nggak cocok ending-nya.” 

Alfa mengangguk. 

Hening sebentar. 

“Tapi…” 

Gue mengangkat kepala. 

“Lo pernah kepikiran nggak, kalau jodoh lo itu gue?” 

Jari Alfa berhenti di atas keyboard. 

Dia menatap gue lama. 

Terlalu lama untuk jawaban yang sederhana. 

“Hahahahha, serius amat mikirnya.” 

Gue memecah keheningan itu. Takut kalau suasananya keburu jadi canggung.  

“Gue belum pernah kepikiran sih, Ca.” 

“Yahh, dijawab beneran.” 

Gumamku. 

Alfa menghela napas kecil. 

“Tapi kalau dipikir‑pikir… iya juga, ya. Kita udah kenal dari SMP. Walaupun pisah bertahun‑tahun, tapi pas pertama kali gue lihat lo lagi, rasanya masih sama kayak dulu.” 

“Waduh,” gue cepat‑cepat berdiri. 

“Kayaknya jangan dipikirin lagi deh, Fa.” 

Gue merebut laptop gue dan mulai berkemas. 

“Lo mau kemana?” 

“Pulang, lah. Lihat udah jam berapa?!” 

“Tapi, Ca.” 

Suaranya lebih pelan. 

“Kalau misalnya iya… lo gimana?” 

Tangan gue berhenti bergerak. 

Pelan‑pelan gue menatap Alfa yang sudah menatap gue lebih dulu.  

Kali ini lebih tajam. 

“Gue harusnya bersyukur,” kata gue akhirnya. 

“Nggak perlu pura‑pura biar disukai.” 

Gue menelan ludah. 

“Gue rasa hubungan yang bisa jalan lama itu yang berangkat dari temenan. Karena kita udah tahu satu sama lain, baiknya, buruknya.” 

Alfa mengangguk pelan. 

“Masuk akal.” 

“Ya udah,” gue mengangkat tas. 

“Gue balik duluan. Sampai ketemu di kantor.” 

Gue langsung keluar dari kafe. 

Takut kalau Alfa nanya lebih jauh dan jawabannya justru jadi bumerang buat gue sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...