“Bisa jadi, lo masih hidup alasannya dari orang lain.” ucap Tami dengan tatapan mengawang. “Jadi, semenyerah apapun lo, pada akhirnya lo tetap hidup. Karena lo bangkit lagi, bangkit lagi, lagi, lagi.” tambahnya. Ia mengulang kata ‘lagi’ sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Kania hanya diam dan menghela napas. Ia melirik kertas-kertas di atas meja, hasil pemeriksaan medis yang baru saja ia jalani. “Lo tuh baik sama orang lain, Ni. Sayangnya lo nggak baik juga sama diri lo. Logikanya, karena kebaikan lo ke orang lain, mereka akhirnya doain lo yang baik-baik.” “Semangat, dong!!! Ini bukan pertama kalinya lo dapet kabar jelek soal kesehatan lo.” “Kalau tiba-tiba gue mati?” Kania menyela ucapan Tami. Matanya jauh memandang ke depan, tepat saat matahari yang mulai berjalan pelan menuruni bukit. “Ya udah, semua orang juga bakalan mati kok, cuma masalah waktu aja.” Hening. Hanya suara angin yang menyusu...