“Bisa jadi, lo masih hidup alasannya dari orang lain.” ucap Tami dengan tatapan mengawang.
“Jadi, semenyerah apapun lo, pada akhirnya lo tetap hidup. Karena lo bangkit lagi, bangkit lagi, lagi, lagi.” tambahnya. Ia mengulang kata ‘lagi’ sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian.
Kania hanya diam dan menghela napas.
Ia melirik kertas-kertas di atas meja, hasil pemeriksaan medis yang baru saja ia jalani.
“Lo tuh baik sama orang lain, Ni. Sayangnya lo nggak baik juga sama diri lo. Logikanya, karena kebaikan lo ke orang lain, mereka akhirnya doain lo yang baik-baik.”
“Semangat, dong!!! Ini bukan pertama kalinya lo dapet kabar jelek soal kesehatan lo.”
“Kalau tiba-tiba gue mati?”
Kania menyela ucapan Tami.
Matanya jauh memandang ke depan, tepat saat matahari yang mulai berjalan pelan menuruni bukit.
“Ya udah, semua orang juga bakalan mati kok, cuma masalah waktu aja.”
Hening. Hanya suara angin yang menyusup disela-sela mereka.
“Gue tahu, lo emang orang yang visioner. Tapi, kalau gue boleh saranin, untuk orang yang udah tahu dia sekarat, lebih baik nikmatin momen saat ini seolah-olah lo mati besok. Nikmatin setiap menitnya seolah-olah mati dimenit selanjutnya. Daripada lo pusingin sesuatu yang nggak jelas juga waktunya.”
Kania masih diam.
“Kayak kita sekarang, duduk di roof top, lihat sunset, kena angin. Nikmatin semuanya, rasain. Lo lebih sering ada tapi nggak beneran hadir. Gue yakin, lo lihat matahari itu tapi di kepala lo nggak ada tuh betapa bagusnya pemandangan matahari tenggelam, warna langitnya kayak apa. Lo nggak sadar kalau rambut lo daritadi kabur-kaburan kena angin.”
“Lo juga tahukan, bahwa nggak ada orang yang siap soal kematian, padahal mereka tahu kalau itu kejadian pasti. Kenapa mereka nggak pusing kayak lo? Karena mereka nggak pernah tahu kapan pastinya dan memilih menikmati waktu yang mereka jalani saat ini. Dengan harapan, ketika kematian itu datang, nggak ada lagi penyesalan karena melewatkan sebuah momen dalam hidupnya.”
“Orang yang hidup, patah hati, terluka, sekarat, nggak cuma lo.”
“Semua cuma soal waktu, nggak selamanya lo kayak gini kalau lo mau berusaha berubah.”
Sadar bahwa sedari tadi tidak ada respon dari Kania, Tami melihat ke arah Kania yang masih mematung.
“Jangan nyerah, ya. Seenggaknya lo tahu kalau gue salah satu orang yang berharap lo tetap hidup.” Tami memegang pundak Kania, menyadarkan lamunan sahabatnya.
“Kayaknya gue PMS, makanya terlalu deep mikirnya.”
“Dihhh!!! Gitu mulu alesannya.”
Kania melihat jam tangannya yang menyertakan tanggal.
“Benerkan, ini udah tanggal tua.”
“Ada gitu orang ribut soal tanggal tua, bukan urusan duit tapi urusan hidup dan mati.”
“Pikiran orang beda-beda.”
Kania hanya tersenyum dan kembali diam, yang kali ini ia tujukan untuk menikmati suasananya.
Komentar
Posting Komentar