Langsung ke konten utama

BKN #4 Kamu Hanya Belum Mengerti

“Bisa jadi, lo masih hidup alasannya dari orang lain.” ucap Tami dengan tatapan mengawang. 

“Jadi, semenyerah apapun lo, pada akhirnya lo tetap hidup. Karena lo bangkit lagi, bangkit lagi, lagi, lagi.” tambahnya. Ia mengulang kata ‘lagi’ sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. 

Kania hanya diam dan menghela napas. 

Ia melirik kertas-kertas di atas meja, hasil pemeriksaan medis yang baru saja ia jalani. 

“Lo tuh baik sama orang lain, Ni. Sayangnya lo nggak baik juga sama diri lo. Logikanya, karena kebaikan lo ke orang lain, mereka akhirnya doain lo yang baik-baik.” 

“Semangat, dong!!! Ini bukan pertama kalinya lo dapet kabar jelek soal kesehatan lo.” 

“Kalau tiba-tiba gue mati?” 

Kania menyela ucapan Tami. 

Matanya jauh memandang ke depan, tepat saat matahari yang mulai berjalan pelan menuruni bukit. 

“Ya udah, semua orang juga bakalan mati kok, cuma masalah waktu aja.” 

Hening. Hanya suara angin yang menyusup disela-sela mereka. 

“Gue tahu, lo emang orang yang visioner. Tapi, kalau gue boleh saranin, untuk orang yang udah tahu dia sekarat, lebih baik nikmatin momen saat ini seolah-olah lo mati besok. Nikmatin setiap menitnya seolah-olah mati dimenit selanjutnya. Daripada lo pusingin sesuatu yang nggak jelas juga waktunya.” 

Kania masih diam. 

“Kayak kita sekarang, duduk di roof top, lihat sunset, kena angin. Nikmatin semuanya, rasain. Lo lebih sering ada tapi nggak beneran hadir. Gue yakin, lo lihat matahari itu tapi di kepala lo nggak ada tuh betapa bagusnya pemandangan matahari tenggelam, warna langitnya kayak apa. Lo nggak sadar kalau rambut lo daritadi kabur-kaburan kena angin.” 

“Lo juga tahukan, bahwa nggak ada orang yang siap soal kematian, padahal mereka tahu kalau itu kejadian pasti. Kenapa mereka nggak pusing kayak lo? Karena mereka nggak pernah tahu kapan pastinya dan memilih menikmati waktu yang mereka jalani saat ini. Dengan harapan, ketika kematian itu datang, nggak ada lagi penyesalan karena melewatkan sebuah momen dalam hidupnya.” 

“Orang yang hidup, patah hati, terluka, sekarat, nggak cuma lo.” 

“Semua cuma soal waktu, nggak selamanya lo kayak gini kalau lo mau berusaha berubah.” 

Sadar bahwa sedari tadi tidak ada respon dari Kania, Tami melihat ke arah Kania yang masih mematung. 

“Jangan nyerah, ya. Seenggaknya lo tahu kalau gue salah satu orang yang berharap lo tetap hidup.” Tami memegang pundak Kania, menyadarkan lamunan sahabatnya. 

“Kayaknya gue PMS, makanya terlalu deep mikirnya.” 

“Dihhh!!! Gitu mulu alesannya.” 

Kania melihat jam tangannya yang menyertakan tanggal. 

“Benerkan, ini udah tanggal tua.” 

“Ada gitu orang ribut soal tanggal tua, bukan urusan duit tapi urusan hidup dan mati.” 

“Pikiran orang beda-beda.” 

Kania hanya tersenyum dan kembali diam, yang kali ini ia tujukan untuk menikmati suasananya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...