“Emang lo nggak bosen, Ra?” Tanya Rian yang berhasil membuat Nara berhenti menggerakkan jarinya di atas keyboard laptop di hadapannya.
Matanya beralih melihat kea rah laki-laki tersebut yang duduk berhadapan dengannya. Begitu juga dengan Rian yang menatap ke arah Nara.
Mereka saling bertatapan lama, seolah-olah Nara mencoba mencari jawaban itu di mata Rian. Sedangkan Rian mencoba membaca jawaban itu dari mata Nara.
“Huh…” Nara menghela napas dan menyandarkan badannya ke kursi. Ia menyibakkan rambut depannya dengan jari-jarinya.
“Gue nggak tahu lagi harus ngapain selain kerja biar gue bisa nge-distract pikiran gue sendiri.” Ucap Nara.
Merasa tidak puas Rian mencoba menggali lagi tentang Perempuan yang akhir-akhir ini menarik pikirannya.
“Lo nggak pernah pacaran?” tanyanya kemudian.
“To the point aja, lo sebenernya penasaran soal gue apanya?” Nara balik bertanya kepada Rian.
“Kenapa hidup lo sengebosenin ini? Kenapa setelah lo ngomongin perasaan lo e gue, lo malah pergi? Kenapa lo selalu nyuruh gue balik ke orang yang gue suka padahal lo punya rasa itu? Banyak, Ra. Banyak di sini, sampai gue bingung sendiri.”
“Karena menurut gue lo lebih baik berjuang buat orang itu daripada sama gue. Kenapa pada akhirnya gue kelihatan sendiri? Karena itu perbuatan gue sendiri. Dulu gue punya kesenangan pada umumnya. Tapi karena gue memang nggak bisa ngerawat mereka, akhirnya gue lepasin mereka. Gue membiarkan kehadiran gue hanya secukupnya di hidup mereka. Kalau mereka butuh gue, silakan panggil. Tapi kalau nggak, ya jangan harap gue ada.” Nara menjelaskan dengan pelan.
“Semua pasti ada alasannya, kan? Kenapa lo lepasin itu.”
“Karena gue percaya, mereka lebih Bahagia dengan pilihan mereka sendiri tanpa gue.”
“Sakit lo?”
“Iya,”
“Depresi?”
“Hampir semua orang ngerasain itu, tapi nggak sadar.”
“Trauma?”
“Gue Cuma takut, pada akhirnya orang ninggalin gue dalam keadaan dia benci dengan gue. Nggak ada dibayangan gue, udah banyak dosa, sakit, dibenci banyak orang. Matinya kayaknya sedih banget. Walaupun kelakuan gue tetap yang bikin mereka pergi.”
“Landak, sih lo.”
“Kok bisa?”
Rian terdiam, dia mengambil napas seolah jawabannya akan Panjang.
“Selama gue lihat lo, kerja bareng lo, pada dasarnya gue lihat sisi lo yang baik dan ramah. Lo lebih suka gelap daripada terang dan suka bergadang, nggak mikirin Kesehatan lo sendiri lagi. Lo bisa ngelakuin banyak hal. Kecil-kecil tapi gesit juga. Yang sama persis Adalah cara ngelindungi dirinya justru nyakitin orang di sekitarnya. Lo Cuma percaya isi pikiran lo dan feeling lo yang belum tentu bener. Adakalanya lo nusukin duri ke orang yang sebenernya mau nolong lo.”
“Yaa…ada benernya. Tapi asal lo tahu, pada dasarnya gue udah nggak percaya sama diri gue sendiri. Gue kehilangan control atas itu, makanya gue memilih untuk pergi dari semuanya. Gue pengen percaya satu kali lagi, tapi akhirnya gue berharap dan sakit lagi.”
“Jadi, harus gimana biar lo bisa percaya sama gue?”
Nara meneguk sisa kopi di gelasnya.
Raut wajahnya menunjukkan rasa pahit yang menggangu lidah dan kerongkongannya.
“Ini yang nggak gue suka Ketika punya relasi dengan orang lain. Gue pusing.”
“Gue boleh kan ngajak ngobrol lo dikantor, gue ajak lo makan siang, nganterin pulang, nemenin lo kerja kayak gini?”
“Nggak, kayaknya lo deh yang perlu cari kesibukan sekarang.”
Rian terlihat kesal dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Kalau gue bilang suka sama lo, apa lo mau percaya sama gue?”
“Nggak.”
“Kenapa?” nadanya sedikit protes.
“Yan, percayalah lo Cuma kasihan sama gue. Karena ini pemandangan pertama lo ngelihat Perempuan hidup sendiri dan kerja keras. Udah, itu aja. Tapi, asal lo tahu, gue nggak sekasihan itu. Mungin kalau gue sedih atau menderita atas itu, lo bener gue menyedihkan. Tapi kalau gue menerima dan bisa menikmati itu, ya udah. Berarti gue nggak ngerasa hidup gue menyedihkan.”
Rian menghela napas.
“Ya udah, gue nggak akan ganggu lo lagi. Kecuali soal kerjaan. Kontrak gue di kantor lo juga tinggal beberapa bulan lagi.”
Nara mengacungkan jempol dan Kembali bekerja.
“Gue balik duluan, ya.”
“Oke, hati-hati.”
Tanpa menjawab Rian keluar dari café bahkan tanpa menoleh ke arah Nara lagi.
Sampai di parkiran, dia duduk di atas motornya. Ada perasaan kesal dan kecewa di hatinya.
Beberapa detik kemudian dia langsung pulang ke rumahnya.
Komentar
Posting Komentar